Realita emang gak selalu bisa sama dengan apa yang disebut “ keinginan”. Dan malah lebih sering bertolak belakang dengan yang namanya “harapan”.
Terkadang kita gak bisa memahami apa
sebenarnya yang diinginkan hidup ini, sampai semuanya terhenti tiba-tiba dan
tidak ada yang tahu. Yah..hidup ini tidak selalu punya sudut-sudut yang
membulat, terkadang terasa “runcing” bahkan mungkin lebih sering untuk sebagian
orang. Ada kalanya, beberapa hal sangat bisa mempengaruhi seseorang dalam
hidupnya, entah itu benda mati atau benda hidup. Yang jelas..sesuatu/seseorang
itu seakan membuat dirinya stuck dan
tidak berani melangkah lebih, karena tidak percaya diri dengan realita diri. “Saya
sedang jatuh cinta..saya sedang mengangumi wanita/pria itu. Tapi, sesuatu
mengikat hati saya. Sebagai contoh: orang seperti ini sering merasa tidak layak
mencintai orang lain, karena hati dan pikirannya dibebani dengan kondisi
keluarga yang berantakan (menangis). Saya hanya berpikir, orang seperti ini
pasti sangat diikat dengan pikirannya, sampai-sampai dia tidak percaya diri
memasuki kehidupan orang lain, orang yang sebenarnya sangat ia cintai. “Bagaimana
saya membawa keluarga saya yang berantakan? Bagaimana saya mengenalkan keluarga
saya padanya nanti? Saya tidak bisa.”
Realita lain adalah, ketika
Anda mungkin berada pada masyarakat yang tidak sekarakter dengan Anda. Tapi..zona
itu mendominasi Anda. Yang Anda bisa lakukan hanyalah diam. “ Saya mau semua
hidup damai, tanpa amarah atau kesal di hati.” Tapi..seringkali saya tidak
mendapatinya. Sebagai contoh: Orang seperti ini sering kita dapati duduk
terdiam di sudut ruangan atau kamarnya, atau menulis isi hatinya. Karakter
seperti ini biasanya tidak suka keramaian yang menyesakkan, dan enggan berbagi
dengan orang lain. Dia bisa saja bertingkah sewajarnya orang kebanyakan,
tapi..lihat raut wajah dan kerutan-kerutan serta bola matanya yang seakan
menyimpan banyak kesakitan, kepahitan dan beban pikiran. “Saya hanya mau semua
orang hidup damai, tanpa ada amarah, tanpa ada yang membawakan ego
masing-masing.”
Seperti halnya kedua realita di
atas, berikut adalah efek ketika seseorang tidak lagi dapat menahan emosi yang
tertahan dalam hatinya, bahkan bisa sampai merusak kerja otaknya untuk berpikir
dan memisahkan antara mana yang harus dipikirkan dengan mana yang tidak harus
dipikirkan. “ Saya merasa ini semua terasa berat. Bahkan saya merasa
aliran-aliran listrik seakan jelas mengalir di kedua jari-jari tangan saya.
Saya dapat merasakannya dengan jelas, bukan dibua-buat.” Ini yang dinamakan
dengan “[Puncak Ketegangan Batin].”
Waspadai
apa yang Anda jadikan beban pikiran!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar